Satu jam telah tercurahkan untuk mengejar keindahan…
Dan cinta adalah permata kemuliaan bagi para sahaya yang dibingkiskannya untuk kaum saudagar..
Mengais puingan cinta dari padang – padang gersang jiwanya.. Untuk mengajarinya meneteskan air mata dan kasih sayang……
Desir malam telah terselubung sunyi…
Sementara kota Matahari telah terlelap..,seraya lampu pijar kian tertunduk di antara zaitun dan pepohonan malam…
Bulan mencurahkan cahaya peraknya ke dasar pualam putih yang berdiri ditengah hening malam..,bagai gemerlap yang menghiasi kening perbukitan……
Aku menyerunya ketika fajar merekah..,namun Dia tak mendengarku…
Karena matanya diberati oleh tidur keserakahan…
Kupanggil Dia dengan suara nyanyian kearifan..,namun Dia tak mendengarkannya…
Sebab elegi telah memikat hatinya menuju sebuah bunker keegoisan tempat bergumulnya keserakahan…
Aku mencarinya diladang kesenangan..,namun aku tak menemukannya…
Karena elegi telah memenjarakannya dalam gua iri hati dan ketamakan…
Menguncinya di sana bersama rantai penderitaan……
Dia mencari ketidakjujuran sebagai perantara…
Sebab Dia dibayang – bayangi oleh kesunyian yang menyelimuti bunga – bunga yang sedang terlelap tidur di atas alunan melody cinta…
Namun sahaya telah mengajarinya meneteskan air mata dan kasih sayang…
Dan melalui air mata keluh kesah..,kesenangan diungkapkan……
…Suaranya semakin samar… dan …bibirnya menggeletar bagai bunga dilanda semilir angin pagi…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar